Pages

Senin, 14 Oktober 2013

Penurunan Struktur Makro Dan Struktur Mikro Teks

Model trialogue PBM yang dapat digunakan untuk menurunkan mekanisme yang mengendalikan proses membangun pengetahuan yang diwujudkan oleh pengajar berdasarkan pengetahuan praktis mengajarnya. Mekanisme ini dilihat dari hubungan saling menguntungkan. Hubungan ini hanya dimungkinkan jika pengajar, pembelajar, dan materi-subyek memahami hak prerogatifnya masing-masing, yakni sebagai pemula dan sebagai rujukan nilai kebenaran.

Jika tindakan pengajar menginformasikan (informing), biasanya untuk memulai pelajaran, maka target materi-subyek adalah konten dan respon yang diinginkan dari pembelajar adalah intelligible. Selanjutnya, jika tindakan pengajar berupa menggali materi-subyek lebih dalam (eliciting) maka target yang dikehendaki adalah substansi dan respon yang diharapkan adalah plausible. Jika kegiatan sampai pada tahap memapankan dimana pengajar mengarahkan (directing) maka targetnya adalah sintaktikal dengan harapan menjadi berguna (fruitful) bagi siswa. Tiga komponen intelligible, plausible, dan fruitful merupakan kriteria accessible dalam proses belajar-mengajar. Intelligible berarti mater-subyek dapat dipahami atau dimengerti pembelajar karena pengetahuan dihihat terpadu dan mempunyai konsistensi internal. Plausible artinya pengetahuan dapat dipahami atau dimengerti pembelajar karena sesuai dengan pengalaman yang mereka miliki. Sedangkan fruitful bermakna sesuatu dapat dipahami/dimngerti karena dapat digunakan atau mempunyai nilai lebih.
            Siregar lebih lanjut mengyatakan bahwa interaksi komponen-komponen itu berlangsung berdasarkan hubungan ketergantungan yang saling menguntungkan dengan melihat setiap komponen sebagai kewenangan wacana menurut posisinya masing-masing. 

Aspek materi subjek :
1.  aspek konten, mencakup fakta dan konsep dalam disiplin ilmu melalui motif deskripsi dan definisi.
2. aspek substansi, mengendalikan pengorganisasian konten melalui aturan, hukum, kriteria dansebagainya.
3. aspek sintaktikal, mengendalikan bagaimana pengorganisasian konten dilaksanakan dengan menggunakan keterampilan intelektual untuk mengembangkan suatu eksplanasi.

Ø  Proposisi mikro diturunkan dari teks dasar, sedangkan proposisi makro diturunkan dari proposisi mikronya.

Ø  Penurunan proposisi mikro dan makro dilakukan dengan mengikuti aturan makro, yaitu:
      1. Penghapusan
      2. generalisasi
      3. konstruksi.

Ø  Analisis materi subjek
1. Membuat teks dasar
2. Menurunkan Proposisi Mikro dan Makro
3. Menurunkan Struktur Global
4. Menurunkan Struktur Makro
5. Menurunkan Model Representasi
6. Analisis Kesesuain Materi Subjek
6. Analisis kesesuaian representasi
7. Analisis Wacana Argumentatif
8. Penglihan Teks menjadi Hiperteks

Ø  Pengalihan teks menjadi hiperteks perlu memperhatikan hal berikut ini:
1.      Menentukan format tampilan hiperteks dalam layar
2.      Bagaimana menjelaskan hubungan kedekatan struktur makro dengan teksnya sehubungan dengan intelektualitas teks
3.      Bagaimana membagi file-file pendukung dengan memperhatikan sifat link-nya, sehubungan dengan sifat cognitive flexibility
4.      Bagaimana memelihara keterpaduan teks

Ø  Analisis Wacana
Tugas utama dlm analisis wacana:
1. Mengorganisasikan unit terkecil (proposisi-mikro) menjadi unit yg lebih besar, proposisi-makro
2.  Secara berulang proposisi-makro dapat digabung  menjadi proposisi- makro yg lebih umum, akhirnya menjadi proposisi-global
3.      Secara keseluruhan organisasi yang dihasilkan disebut “STRUKTUR MAKRO”

Ø  Analisis Struktur-Dalam Teks Hiperteks
Setelah melakukan analisis permukaan berupa analisis struktur-luar sample hiperteks maka dilakukan analisis struktur-dalam terhadap teks sample hiperteks tersebut. Dasar prosedur analisis hiperteks bergantung kepada bagimana menurunkan struktur makro suatu teks. Untuk melakukan analisis ini, proses dibagi ke dalam tiga tahap, yaitu pembentukan teks dasar atau penghalusan dasar teks, penurunan proposisi mikro dan makro, serta penyusunan struktur global dan makro masing-masing hiperteks. Khusus untuk hiperteks yang ditulis dalam bahasa Inggris terlebih dahulu dilakukan alih bahasa ke bahasa Indonesia. Hasil alih bahasa dikonsultasikan dengan dosen pembimbing untuk melihat kesahihannya. Namun, dengan pertimbangan bahwa tidak mungkin alih bahasa dilakukan sepenuhnya, maka dalam analisis, teks asli tetap digunakan sebagai pendamping teks terjemahan.

a.  Pembentukkan Teks Dasar
Pembentukkan teks dasar atau penghalusan teks adalah tindakan yang dilakukan untuk membersihkan teks dari alenia, kalimat, frase, atau kata, yang tidak mendukung proposisi yang lebih makro atau hal serupa yang berlebihan atau bersifat pengulangan serta menyempurnakan teks sehingga memenuhi kaidah bahasa yang benar dan mudah dimengerti. Tujuan pembentukan teks dasar adalah untuk memapankan makna agar penurunan proposisi selanjutnya dapat dijamin kesahihannya. Pembersihan dan penyempurnaan dapat dilakukan dengan syarat tidak mengurangi atau merubah makna teks aslinya. Tujuan utama pembentukkan teks dasar ini adalah untuk memudahkan analisis teks selanjutnya. Pembentukkan teks dasar berpedoman kepada kriteria ketepatan hubungan unit-unit wacana dan kejelasan struktur pengetahuan pada berbagai level, sebagaimana yang dikemukakan oleh Frederiksen (Siregar, 2000) dan Van Dijk & Kintsch (Siregar, 2000). Ketepatan merujuk kepada peristilahan yang tidak berlebihan dan tidak kurang dalam mengungkapkan aspek fenomena yang dibicarakan. Sedangkan kejelasan merujuk pada penggunaan verbal yang jelas hubungannya dengan predikat dalam mengendalikan suatu proposisi (Siregar, 2000). Kriteria ketepatan dan kejelasan ini dapat dicapai dengan penghapusan alenia, kalimat, frase, dan kata serta penyisipan kalimat, frase, kata, atau huruf. Dalam prakteknya penyisipan ini semakin penting untuk mengimbangi penghapusan yang dilakukan. Dlam proses penurunan teks dasar, alenia, kalimat, frase dan kata yang dihapus dibatasi dengan kurung krawal {...} sedangkan kalimat, frase, dan kata yang disisipkan dicetak dengan huruf miring.   

b.  Penurunan Proposisi Mikro dan Makro
Dari teks dasar dilakukan analisis untuk menurunkan proposisi mikro dan proposisi makro. Proposisi mikro langsung dibentuk dari teks dasar. Proposisi ini memiliki tingkat abstraksi paling rendah. Dari proposisi mikro ini ditarik proposisi yang lebih makro. Beberapa proposisi makro dapat menghasilkan proposisi lebih makro lagi yang disebut dengan proposisi utama. Proposisi makro dapat diturunkan berkali-kali sesuai dengan tingkat abstraksi yang diinginkan. Semakin tinggi proposisi makronya semakin tinggi tingkat abstraksinya. Dalam penelitian ini dilakukan tiga kali penurunan, yakni untuk pembentukan Makro I, Makro II, dan Makro Utama. Penempatannya dilakukan secara berurutan dalam tabel ”Analisis Proposisi Mikro Makro”. Lebih jelasnya, pada kolam pertama untuk Tindakan Wacana, kolam kedua untuk Teks Dasar, kolam ketiga untuk Proposisi Mikro, dan kolam keempat sampai keenam untuk Proposisi Makro I sampai Makro Utama.

c.  Penyusunan Struktur Global dan Struktur Makro
Setelah melakukan analisis proposisi dilanjutkan dengan menyusun struktur global sampel. Struktur global selanjutnya dikembangkan menjadi struktur makro. Baik struktur global maupun struktur makro disusun langsung berdasarkan hasil penurunan proposisi mikro dan proposisi makro. Struktur global berfungsi untuk menyederhanakan materi ke dalam suatu struktur agar lebih memudahkan pemahaman oleh pembelajar. Penyederhanaan materi tergambar dari pengorganisasian materi berdasarkan dimensi progesi dan dimensi elaborasi. Penyusunan struktur global memperhatikan keterpaduan hubungan antar unit tema yaitu mengendalikan tinadakan makro dalam dimensi elaborasi dan dimensi progresi (Siregar, 2000). Struktur global dan struktur makro merujuk pada hubungan retorika dengan menjaga hubungan hirarkisnya. Penyusunan juga dilakukan dengan memperhatikan tindakan wacana, terutama pada struktur global.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Sms Gratis

Game Hamster

ShoutMix